Gerakan anti rasis dari komunitas DOTA Cina

Gerakan anti rasis dari komunitas DOTA Cina

Selain terampil bermain dan berhasil juara, sebagai pemain profesional seharusnya menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab. Sayangnya dengan pesatnya perkembangan esport di dunia terkadang hal itu terlupakan.

Dimulai dari insiden dimana Gabriel "Skemberlu" Ong pemain core dari compLexity Gaming yang ditarik dari belahan Asia Tenggara membuat salam pembuka di match-nya dengan Royal Never Give Up dengan kata-kata "GL chingchong". Untuk yang belum tahu kata chingchong ini bisa dibilang sebuah ledekan untuk orang Cina ataupun bahasa Cina alias Mandarin yang dianggap bernada seperti itu.

Hal ini pastinya dari sisi orang Cina sendiri sangat menghina dan Skem pun langsung dicaci-maki dari berbagai kalangan yang akhirnya dirinya dan organisasi akhirnya meminta maaf setelahnya.

Tidak sampai situ saja Kuku dari TNC Predator juga dituduh melakukan hal yang sama pada pub game walau dirinya akhirnya juga meminta maaf dan juga beralasan dengan adanya pemain yang bernama chingchong pada game disaat dia mengucapkan kata tersebut.

Terakhir datang dari berita turnamen Major kedua yaitu The Chongqing Major yang dengan sembarangan para netizen menyamakan nama kota besar di Cina tersebut dengan kata-kata chingchong juga. Akhirnya dengan rentetan ini komunitas DOTA 2 di Cina terpancing emosinya yang dimulai dari Perfect World sebagai pemegang lisensi DOTA di Cina membuat pernyataannya.

source: Perfect World 

Secara singkat Perfect World mengutuk aksi seperti diatas dan apabila hal tersebut terjadi pada turnamen yang mereka selenggarakan maka secara instan pemain dan tim yang bersangkutan langsung didiskualifikasi.

Tidak sampai situ saja beberapa tim besar di Cina seperti PSG.LGD, Vici Gaming, dan Team Aster juga telah membuat pernyataannya masing-masing di berbagai sosial media yang garis besar juga mengutuk hal ini dan menginginkan Valve melakukan tindakan atas hal ini.

Tampaknya dengan pesatnya perkembangan dunia esport dan juga semakin kompetitif, organisasi hanya merekrut pemain lebih berdasarkan skill dan potensinya saja demi mendapat gelar juara. Tentunya status pemain profesional bukan hanya pada elemen itu saja tapi juga bertindak profesional pada segala hal juga berapapun umurnya dan darimana asalnya. Apabila kepribadian individu tersebut dirasa kurang organisasi juga harus bertanggung jawab untuk membinanya agar hal seperti ini tidak terjadi lagi yang membuat nama esport sedikit banyak menjadi buruk.



Comment:

Anda harus login untuk mengirim komentar