IG menjadi penutup membuktikan LPL sebagai yang terbaik tahun ini

IG menjadi penutup membuktikan LPL sebagai yang terbaik tahun ini

source: Riot Games

Akhirnya yang dinantikan tiba juga untuk membuktikan yang terbaik di ranah League of Legends pada tahun ini di grand final 2018 World Championship antara Invictus Gaming dan Fnatic.

Dibuka dengan konser pembuka di Incheon Munhak Stadium, Busan - Korea Selatan. Walau liga LPL mengguncang dunia persilatan LoL pada tahun ini tapi dengan tumbangnya RNG di perempat final membuat sedikit keraguan dimana Fnatic sebagai wakil dari Europe yang tampil tangguh sejak turnamen dimulai.

Begitu match besar ini dimulai dan dalam sekejap juga IG mendapat poin pertamanya dengan gemilang. Hanya dalam 27 menit yang berarti IG tetap dengan permainan gaya khas LPL yang terkenal agresif dan Fnatic tampaknya menganggap enteng elemen ini.

 

 

Masuk game kedua mungkin Fnatic masih belum terlalu mendapat tekanan dan Alistar yang dibiarkan dipick di game pertama sekali lagi dibiarkan lagi yang dengan cepat menjadi bencana lagi dengan ganking dari IG yang sangat berani tidak peduli dengan tower. Fnatic memilih bermain nekat dengan menarget Baron demi membalikkan keadaan yang sudah tertinggal dan meski sukses kill tapi IG langsung membungkam Fnatic di tempat yang sama.

IG pun tidak menunggu lagi langsung menyerang markas Fnatic yang sudah kehilangan banyak momentum dan hanya mengundur kekalahannya saja.

 

 

Sampailah diujung jurang untuk Fnatic yang tidak boleh kalah lagi dan kali ini berhasil menahan laning phase tanpa kena gank. Tapi IG pun juga tidak tinggal diam dan kali ini memaksa team fight di awal game yang sukses besar dieksekusi IG. Fnatic pun tampaknya memilih untuk menjadi agresif juga dengan mencoba gank TheShy yang meski berhasil bunuh tapi Fnatic membayarnya dengan mahal dari serangan balik IG.

Dengan momentum besar IG pun berpindah ke Baron yang sangat krusial dan Fnatic berhasil menggagalkannya dengan mencuri kill dan menang team fight di Baron pit. Tapi IG yang dari awal game sudah unggul tinggal lanjut mengerjakan objektif yang membuat Fnatic terpaksa harus hentikan tanpa sempat farming dan satu sapuan besar dari IG menyelesaikan segalanya untuk Fnatic.

 

Meski game terakhir JackeyLove yang menjadi MVP-nya tapi pada dua sebelumnya Ning sukses membawa tim mendapat momentum besar. Atas itu Gao "Ning" Zhen-Ning menjadi MVP dari grand final 2018 World Championship.

Dengan hasil ini walau RNG gagal di titik terakhir tapi secara lingkup lebih luas atas berkat jasa Invictus Gaming, LPL sah menjadi liga terkuat di tahun ini yang mendominasi berbagai kejuaraan besar League of Legends dimulai dari MSI 2018, Rift Rivals 2018 LCK vs LPL vs LMS dan terakhir Asian Games 2018 sebelum 2018 Worlds sendiri.



Comment:

Anda harus login untuk mengirim komentar